Sahabat Blogger

Minggu, 21 April 2013

Tetes Terakhir

Source : Google
###
Musim tengah berganti, namun Aku masih disini, diam tak beranjak. Seperti sudah menjadi kebiasaan ketika sedang libur kuliah seperti sekarang ini, hanyalah bermalas-malasan di kamar. Apalagi suasana begitu mendukung untuk tetap berdiam diri di kamar, di luar hujan cukup deras. Setelah kuambil secangkir coklat hangat dari dapur, lantas Aku duduk di jendela, menatap setiap tetes butiran hujan dari baliknya. Entah darimana asalnya, serpihan-serpihan masa lalu itu kembali mengusik khayal ku. Dia yang dulu pernah menjadi bagian dari setiap episode kehidupan ku, kini kembali tanpa permisi.

Beberapa hari lalu, ketika Aku sedang disibukkan melayani pembeli di toko sembako milik paman. Ini kegiatan ku selama dua minggu libur semester, membantu paman berjualan di toko kelontong miliknya. Timbang hanya buang waktu di kamar lebih baik disini, sambil belajar juga bagamana paman bisa sukses dengan usaha dagangnya ini. Aku kira Dia lengganan toko paman, seseorang yang wajahnya tak asing lagi bagiku, 
"Hei, apa kabar?" Katanya tiba-tiba.
'Siapa Dia ini berlagak sok akrab begitu.'
"Kamu Dody, kan?"
"Iya saya Dody. Maaf, ada yang bisa saya bantu, mbak?"
"Masa nggak inget sih sama Aku?" Tanyanya manja.
"Maaf, siapa?"
"Ini Aku, Dod." Jelasnya sumringah.
"Bentar-bentar. Uhmmm... kamu?"
"Iya, ini Aku."
"Oh iya, Aku inget. Apa kabar kamu?"
"Ih... kan Aku duluan yang nanya gitu dan belum kamu jawab."
"Heh? maaf, iya Aku baik. Kamu?"
"Gitu dong, Aku baik juga."
Kemudian masing-masing kami tenggelam dalam suatu percakapan dengan sesekali terdengar suara tawa darinya yang memang sudah sekian lama baru aku dengar lagi sekarang, rasanya berbeda.
***
 "TRUTTT...!" New message tertera dilayar Hape ku.

From : +6283824331xxx
"Malem gini lagi ngapain?"

'Siapa malam-malam begini SMS? nggak pake nama pula?' Aku pikir, ah... sudahlah barangkali iseng. Aku pun kembali fokus ke tugas kuliah lagi. Selang lima menit kemudian, Hape ku bunyi lagi masih dari nomer yang sama.

From :  +6283824331xxx
"Kok nggak bales? udah bobo ya? :'(" 

"Maaf siapa?"
Send.

From :  +6283824331xxx
"Oia gud nait. Misu :) "

Aku heran, orang ini makin nggak jelas saja, Aku biarkan tak membalas dan kembali larut dalam tugas yang sudah menanti deadline lusa hari. Libur dua minggu rasanya begitu cepat berlalu, mungkin juga karena liburan ku sibukan dengan membantu paman ditoko, jadi nggak terasa kalau liburan sudah berakhir.
Pukul 02.30 dini hari, akhirnya tugas itu selesai dengan damainya berharap mendapat nilai yang sebanding dengan pengorbanan saat pengerjaanya. Aamiin :)
***
"Dod, ini ada titipan." Panggil teman ku seraya menyerahkan sebuah bungkus plastik hitam.
"Dari siapa?"
"Nggak tau, dari cewek tadi pagi. Katanya Dia temen kamu dan titip ini."
"Oh? Yaudah, Aku terima. Tolong bilang makasih sama Dia."
"Okesip, nanti aku sampein kalo ketemu lagi."
"Dod, aku duluan ya. Ada kelas soalnya. Bye!" Dina, teman satu kampus beda jurusan, doi merupakan temen lama sejak di bangku SMA.

Hari-hari berikutnya, sering sekali dapat kejutan, entah itu kado pemberian ataupun sekedar kiriman pesan singkat. Sampai sekarang pun semua bungkusan-bungkusan itu belum aku buka sama sekali, karena aku saja belum tau siapa dibalik semua ini.
***
Ku rebahkan tubuh ini diatas kasur lantai kamar kost ku. Yah... meskipun nggak seempuk springbed dirumah tapi Aku masih tetap bersyukur kalau Aku masih bisa tidur dikamar kostan yang nggak seberapa ini ketimbang orang-orang disana yang hanya mampu tidur dibawah kolong jembatan.

Pikiranku menerawang lagi, lebih jauh ke masa lalu. Masa dimana Aku masih dengan seragam putih-abu, dengan sifat ala remaja ababil yang mencoba menemukan jati diri yang terkadang terjemurus kejalan yang salah. Di SMA, Aku adalah sebagai salah satu siswa favorit banyak guru. Apalagi kalau bukan karena kelebihan yang dikaruniakan-NYA kepada ku, memiliki kemampuan berfikir diatas rata-rata sehingga setiap nilai mata pelajaranku pun selalu diatas rata-rata. Aku sering diikut sertakan dalam berbagai lomba mata pelajaran, dari mulai tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Hal itulah yang membuat Aku, selain dikenal guru-guru juga digandrungi banyak cewek ababil SMA. Seneng? pasti. Tapi nggak jarang yang juga semata-mata memanfaatkan kelebihan ku dengan berpura-pura baik terhadap ku, padahal dibelakang, nusuk.
Menjadi siswa populer itu banyak hal yang harus dihadapi, dari yang biasa hingga yang luar biasa selalu mewarnai tiap hari. Kadang aku berfikir, kenapa Aku terlahir bukan sebagai seorang yang biasa saja, menjalani hari-hari disekolah dengan sedemikian lurus tanpa gangguan yang terkadang menjengkelkan.

Menginjak tahun terakhir diSMA, Aku mulai terpesona pada siswi yang juga sama berada ditingkat akhir seperti ku. Namun yang Aku herankan, kenapa Aku baru melihatnya sekarang, kemana Dia selama dua tahun terakhir. Mungkinkah Dia yang terlalu pendiam sehingga membuat ku tidak mengenalnya, atau mungkin Aku yang terlena dengan ke-populer-an ku sehingga Aku lupa dengan dunia sekitar? Entahlah, yang jelas sekarang, Aku mulai jatuh pada gadis yang belum Aku ketahui namanya itu.

Tak seperti biasanya, pagi itu Aku mulai belajar sebagai seorang siswa biasa, dengan seragam yang lebih biasa dari biasanya, demi mengenal lebih jauh siapa gadis biasa-biasa itu?
Diujung koridor menuju ruang guru, Aku lihat Dia berjalan dengan setumpuk buku pelajaran diembannya. Tanpa ba-bi-bu, Aku hampiri Dia dengan modus menolongnya membawakan sebagian buku-buku itu. Disitulah awal perkenalan Aku dan Dia.
***
"Berhubung ini malam minggu, kalo kamu nggak sibuk, mau nggak jalan keluar."
Send.

From : -
"Aku nggak biasa keluar malem-malem, nggak boleh sama bunda."

"Nanti Aku yang minja ijin ke bunda kamu, yang penting sekarang kamu mau dulu."
Send.

From : -
"Aku takut, tapi..."

"Tapi apa?"
Send.

From : -
"Yaudah, Aku mau tapi kamu yang bilang ke bunda ya :)"

"Sip!"
Send.

Tidak sampai setengah jam, Aku sudah sampai depan pagar rumahnya. Dengan senyumnya Dia menyambut ku membukakan pintu pagar. Ku lihat bundanya sedang asyik dengan jahitan kain ditangannya, dengan banyak hiasan manik-manik diantaranya. 
"Bunda, kenalin ini Dody teman sekolah."
Bundanya mendelik sesaat, memperhatikan ku dari ujung rambut hingga ujung kaki, "Ini toh temen mu yang sering kamu ceritakan sama bunda itu?"
"Iya bund. Ini Dody. Dody ini bunda."
"Malem tante, saya Dody."
Tak ku sangka, perkenalan dengan bundanya tak serumit apa yang aku pikirkan. Beliau begitu ramah menyambut kedatangan ku. Dengan sedikit basa-basi, aku meminta ijin untuk mengajak anak perempuannya jalan-jalan keluar. Dan lagi dengan keramah-tamahannya beliau mempersilahkan Aku mengajak anak perempuanya sekedar bermalam minggu. Mungkin beliau paham, dulu dia juga seperti Aku dan Dia sekarang, pernah muda.
"Inget! hati-hati bawa putri bunda. Jangan macem-macem."
"Iya tante, aku janji nggak bakal macem-macemin anak tante."
"Makasih ya tan, aku pergi dulu."
"Yaudah, hati-hati dijalan, nak." Dengan senyumnya beliau mengantar kami hingga depan pagar rumah.

Malam minggu ini rasanya lebih benderang dari biasanya, langit malam yang menghitam dihiasi taburan kerlip bintang-bintang juga sinar bulan sabit yang ikut menerangi malam ini seolah mereka merasakan kebahagiaan yang aku rasakan sekarang.
"Bulannya bagus ya, bentuknya lucu kayak senyum kamu."
"Ih... kamu bisa aja deh."
"Bintangnya juga bagus, masih sama seperti dulu. Indah seperti biasanya aku suka." Katanya kemudian.
"Heh? memangnya dulu seperti apa?" Aku sedikit curiga jangan-jangan Dia teringat mantannya lagi.
"Apa aku ingetin mantan kamu ya?"
"Eh, nggak. Bukan begitu maksud ku."
"Terus?"
"Jadi yah... Aku memang suka banget liatin bintang-bintang dari balik jendela kamar ku. Apalagi kalau malam sudah semakin larut, berasa damai aja ngeliatnya." Jelasnya sembari menatap indah kelangit. 
Aku lihat senyumnya yang membuat ku semakin berharap bisa terus berada disampingnya menemani kala Dia menikmati keindahan langit seperti sekarang ini.
***
"Dod, itu cewek yang kemarin titip kado buat kamu. Tuh!" Tunjuk Dina kearah seberang jalan depan kampus.
Aku sempat kaget, apa benar Dia yang selama ini ada dibalik pesan-pesan misterius itu.
"Dod, kenapa muka mu berubah gitu? emangnya ada yang aneh sama Dia?"
"Emangnya Dia siapa sih, Dod?" Jejal Dina.
"Eh? Uhmmm... Dia, Dia bukan siapa-siapa kok. Cuma temen lama."
"Temen apa temennn...?" Goda Dina.
 "Iya temen. Nanti deh Aku jelasin ke kamu. Sekarang Aku duluan ya, mau samperin Dia dulu. Bye!"
"Salam buat Dia ya, Dod!"
"Ya!" Aku segera berlalu menghampirinya, dan segera menanyakan apa maksud semua ini.

"Hei, tunggu!" Sergah ku pada seorang gadis yang Aku temui ditoko paman kala itu.
Setelah perbincangan selanjutnya, Dia mengaku kalau memang dirinya lah yang selama ini ada dibalik kemisteriusan itu. Dia yang selama ini menitipkan kado-kado itu yang ternyata berisikan serpihan-serpihan masa lalu antara Aku dan Dia dulu,
"Kamu tau, Dod? selama Aku jauh disana, terpisah lautan luas hanya karena Aku yang memutuskan untuk melanjutkan study ku diluar sana, meskipun pada kenyataanya Aku tau kamu tidak pernah suka dengan hubungan jarak jauh seperti itu. Aku terus berharap, Aku dan Kamu masih sebagai Kita seutuhnya. Tapi..." Tenggorokannya tercekat berusaha menjelaskan apa yang selama ini Dia pendam.
"Tapi... Aku," Belum juga selesai dengan kalimatnya, Dia memeluk ku erat seperti enggan untuk melepaskan.
"Aku masih sayang Kamu, Dod. Aku mau Kita seperti dulu lagi." Tangisnya pecah dalam peluk ku.
Aku tak bisa berucap apapun selain menjawab dekapannya lebih erat.
###

Ja matta ne...

14 komentar:

  1. seorang writer nih hehe......
    memang saya juga kadang punya hobi mengarang cerita mas ,bahkan dalam pikiran saya bisa membuat sebuah film hoho :D

    tapi ini cerita kalo dijadikan sebuah sinetron kayanya cocok mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sankyu trisu-san :)
      be a writer udah cita-cita dek :)

      tapi... saya bukan produser dek :(

      Hapus
  2. Cerita curcol ya Ben? hehe..
    Saran ya Ben, daripada lu kasih emoticon, mending dijelasin aja pakai kata-kata. ^^)v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kedengeran seperti curcol ya? padahal itu pure fiksi loh :3
      saya belum mahir rupannya, mesti banyak belajar lagi nih :)
      sankyu saranya. maaf itu kebiasaan suka ngetik pake emot xD

      Hapus
  3. saran ben kalo untuk kalimat langsung kayaknya bagus kalo ngak di miringin deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi inikan ceritanya lampau kak. juga termasuk dialog jadi emang musti gitu (?)
      but, thanks before for your attention, bro :)

      Hapus
  4. ben, waktu aku baca pertama tu aku pikir kamu mau curhat, ternyata di tengah tengah setelah ada kata kata yang tercekat,sergah, ku rebahkan tubuh ini, dll baru sadar kalo kamu lagi nulis cerpen. hahahaa..
    bagus Ben. lanjutkan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. owalah ternyata masih berasa curhat yah :| *sigh*

      but, thanks mey :)

      Hapus
  5. keren cerpennya. kayaknya ada jiwa "penulis" nih :) lanjutkan!

    BalasHapus
  6. Ternyata curpen, curhat pendek -_-" *apalah ini abaikan

    Hi Hi Hi

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih dianggap curhat juga ya? curhat -..-"

      Hapus

Tinggalkan jejakmu, sesederhana itu saya sudah merasa dihargai.
Terimakasih :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...