Sahabat Blogger

Minggu, 06 Juli 2014

I'm back!


Marhaban ya ramadhan, ahlan wa sahlan ya... ahli kubur? *dibantai massa

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kembali ngisi postingan blog ini setelah 360hari lebih berlalu. Ya! Saya hiatus sebagai blogger selama setahun, SATU-TAHUN! *sengaja diulang biar dramatis

Salah satu alasan kenapa saya murtad dari dunia per-blogger-an tidak lain tidak bukan adalah koneksi inet yang akhir-akhir ini amat sangat kampret, you know?

Beberapa hal lainnya juga memang mendasari murtadnya saya dari dunia blog tersebut.

Apa saja? Let’s see...



1.  Blog present

Salah satu alasan kenapa saya males nge-blog adalah tampilan yang saya rasa sangat membosankan, semrawut kayak sistem pemerintahan Endonesa saat ini. Terakhir saya dapat testimoni dari salah satu readers saya, kalau dia mendadak katarak setelah mampir ke blog saya. Pfttt...

2.  More than reason 

Karena keseringan bergaul dengan sopir angkot di terminal, saya jadi mendadak pinter ngeles. Pas lagi banyak ide mau nulis, karena terlalu banyak inilah, itulah, ujung-ujungnya nggak jadi ngepost. Ide itupun menguap seiring adzan maghrib berkumandang...


3.  Sok sibuk

Alasan klise mana lagi yang hendak kamu sampaikan, hingga berbusa pun takkan ada yang percaya. Musryik.

Jadi gitu. Pokoknya mah gitu deh. Iya gitu :3 *Karepmu!
 

Demikian, beberapa hal yang membuat gue males nulis, dan hilang dari peradaban. Tapi insya allah, mulai sekarang saya berjanji untuk giat menulis lagi, yah.. meskipun belum nemu yang pas sama koneksi inet disini, mahal-mahal cuy. #MentalAnakKost

Intinya, saya pengin kembali nulis lagi, kembali menyandang predikat sebagai blogger sejati dan nggak murtad lagi. Insya allah. Amiin :)

Well, enjoy it...    

Ja matta na...

Senin, 30 Juni 2014

When ICU again




Dari balik jendela, hujan masih dengan tangisnya. Deras membungkam setiap kalimat yang hendak aku sampaikan, tidak jauh berbeda dengannya.

“Dan, maukah kamu simpan ini untukku?” katanya lirih, membuka bisu diantara kita.

 Diberikannya sebuah bingkis kado dengan ikat pita merah jambu, "Berjanjilah, kamu takkan membukanya hingga kamu benar-benar merindukanku kelak." pungkasnya. 

Rasanya ingin memeluk raga itu. Seorang yang sebentar lagi akan pergi, dengan atau tanpa persetujuan dariku.

“Aku akan menyimpannya untukmu, Rin. Jaga dirimu baik-baik.”  hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutku, perih. 

*** 

Hari ini sibuk luar biasa. Kalau sudah akhir tahun begini pasti kerjaan numpuk naudzubillah. Seperti sudah menjadi kebiasaan atau mungkin ini adalah kutukan? 

Rasanya semakin perih mataku menatap layar komputer hampir seharian penuh. Hanya sesekali pergi ke toilet untuk cuci muka atau sekadar mampir ke ruang pantry untuk menambah cangkir kopi yang sedari pagi terus saja dijejalkan kedalam perut sebagai dopping. Overdosis mungkin saja terjadi mengingat porsi berlebih. 

“Sudah jam segini masih belum pulang juga, Mas?” Pak Abu, satpam kantor yang kebetulan sedang keliling.

“Biasa Pak, akhir tahun, kerjaan numpuk. Ini aja masih banyak yang belum selesai,” sahutku lemah.

“Mbok, yo besok lagi dikerjainya, Mas. Sudah tengah malem loh ini,”

       “Pengennya sih gitu, Pak. Tapi mau gimana lagi, sudah tuntutan. Kalo nggak selesai hari ini, tau sendiri kan, Pak, si Bos gimana?”

“Bener juga sih, Mas. Hehe…”

“Ya sudah, silahkan dilanjutin lagi, maaf sudah menggangu. Bapak mau muter dulu.”

“Siap, Bos!”      
                                              
 Ku lirik jam disudut kanan bawah layar komputerku, benar saja, sudah tengah malam rupanya dan belum setengahnya aku kerjakan, entah sampai kapan mau selesai...

Kamis, 10 Oktober 2013

Between the rain

source
Tidak sampai lima menit, hujan turun dengan derasnya. Segera aku pinggirkan maticku bersamaan dengan pengguna jalan lainnya dibawah fly over daerah Sudirman. Beberapa dari mereka nampak sudah kuyup. Untungnya aku lebih cekatan, sehingga sedikit saja dari bagian depan kemejaku yang basa.

Aku mulai bosan karena hujan yang tak kunjung reda. Mulai mencari-cari solusi bagaimana mengusir rasa bosan ini. Setelahku kunci ganda maticku, kemudian beranjak untuk sekedar mencari barangkali ada penjual minuman hangat semacam wedang jahe atau semacamnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, aku melihat seorang ibu-ibu, nampaknya menyediakan apa yang aku butuhkan. Aku hampiri ibu tersebut, aku pesan wedang jahe engan beberapa potong gorengan sebagai pelengkap.

"Bu, sudah lama jualan disini?" daripada tidak ada teman mengobrol, aku mencoba berbincang dengan ibu penjual wedang.

Namanya ibu Supi. Beliau sudah menekuni usahanya selama lebih dari 10 tahun. Ketika ditanya, "Apakah ibu tidak takut sama petugas?" dengan wajah yang cenderung pasrah, "Itu sih udah jadi makanan sehari-hari, mas. Takut sih ada, tapi mau bagaimana lagi. Kalo nggak kayak gini, mau dikasih makan apa anak-anak ibu dirumah." katanya sambil membolak-balik gorengan bakwannya diatas wajan.

Yah... aku cukup mengerti dengan penderitaan ibu Supi ini. Memang, di negara ini hal semacam itu sudah tidak asing lagi. Giliran pedagang kecil ditindas, sedang pengusaha minimarket yang sekarang-sekarang ini tumbuh bak jamur dikulit, dibiarkan sama sekali. Miris.

Ketika aku mulai menikmati suasana perbincangan ditengah hujan seperti ini, ada diantara mereka yang berteduh berhasil mengalihkan pandanganku. Dalam beberapa detik kami sempat beradu pandang, rasanya berbeda. Entahlah...

Layaknya adegan dalam FTV, dengan anggun Ia mengibas-kibaskan rambut panjangnya yang sebelumnya Ia kuncir. Hitam, panjang, mempesona.  Kemeja warna pink yang Ia kenakan terlihat tranpasan akibat bercak hujan, ditambah setelan rok pendek selutut mempertontonkan kakinya yang jenjang. Wajahnya begitu manis dengan bibir tipis mengkilat semakin menambah gerah saja.

"Mas, kok ngelamun. Itu wedangnya dilalerin." tegur Bu Supi membuyarkan lamunanku.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...