Sahabat Blogger

Tampilkan postingan dengan label cerita teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita teman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

Karena tertawa bersama bisa membuat Kita lebih bersahabat :')

Seperti yang sudah gue ceritain sebelumnya disini. Hari ini, Kamis 27 Juni 2013, gue diundang sama temen sekantor buat ngehadirin acara syukuran pengangkatan karyawan doi. Acaranya bakal diadain disatu rumah makan sundah gitu. Ya... gue sih ok ok aja, kan. Apalagi dapet undangan makan gratisan begitu? Siapa coba yang mau nolak. Muahahaha... #MentalHorangKismin #NggakMauRugi
Kita udah janjian sekitar jam 4an. Nah, berhubung gue orangnya on time apalagi sama yang gratisan begitu harus sangat on time. Gue dateng sebelum jam 4. Nyampe tempat hajat, masih belum ada yang dateng bahkan yang empunya hajat. Ok, gue rela nunggu. Gue rela nunggu demi dapet gratisan. Mihihihi....
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.40 menit lebih tapi mereka masih juga belum dateng. Berhubung gue datengnya bareng pacar, dan pacar gue ngambek gegara kelamaan nunggu. Jadi gue balik dulu dan dateng lagi pas jam 6. Iya jam 6 sore mereka baru pada dateng. Apa coba alasan mereka? mereka bilang kena macet. *Yaelah... lu kira di Jekardah pake acara macet gitu? Heuh -..-"
Ciyan kan si bebe jadi bete :|
Ok gue maafin demi yang gratisan. Intinya sih semua karena gratisan jadi semua termaafkan xD
Dan... beginilah acaranya....
Kyaaa~~~

Senin, 25 Maret 2013

Pacar atau... Sopir?



Gue suka kesian sama temen gue yang mau aja nurutin apa aja kata pacarnya, disuruh ini itu sudah kayak bukan pacar. Pernah sekali waktu nggak sengaja gue ketemu dia di mall. Gue liat mukanya kusut kayak keset dengan nenteng seabrek tas belanjaan dikanan-kiri tangannya.
Gue samperin dia, “Weh bro, ngapain lu disini?”
“Eh elu, biasa nemenin cewek gua belanja.” Katanya mendadak sumringah.
“Oh… sebanyak itu?”
“Yoi…”
“Terus cewek lu mana?”
“Tuh!” Dia monyongin bibirnya dimana ceweknya sedang sibuk bersama sekumpulan ibu-ibu lainnya memilah-milih tumpukan baju diskonan.
“Yelah bro mau-maunya lu bawain barang ampe seabrek gitu, udah kayak pembantu aja lo, payah.”
“Yah… apa boleh buat bro, namanya juga cinta.”
“Eh, udah dulu yak, cewek gue manggil tuh. Kapan-kapan gua maen ke tempat lo. Bye!” Katanya sambil berlalu.
Matre Detected
Bukan itu saja, temen gue juga nurut banget sama pacarnya. Disuruh anter jemput pacarnya sekolah dia nurut, disuruh pacarnya nganter kesana-sini dia nurut, disuruh belanja sayuran kepasar dia nurut, disuruh cuci piring dia nurut, disuruh ngepel dia nurut, sampe disuruh nungguin pacarnya disalon pun dia nurut. Gue heran, jangan-jangan dia beneran pembantu bukan pacar, atau sopir yang ngaku jadi pacar? Entahlah…

Jumat, 15 Maret 2013

Until the End of time



DEDICATED FOR MY BRADER (TAUFIK HERMAN SUSANTO)
BESIDE TRUE STORY : KISAH CINTA INSPIRATIF TENTANG ARTI SEBUAH KESETIAAAN DAN KEKUATAN (TAUFIK HERMAN SUANTO & ANNISA MUSLIMAH FAUZIAH )

Dalam postingan kali ini, gue hanya ingin mencoba menyampaikan pesan tersirat dari kisah cinta sohib gue. Postingan ini juga sudah mendapat restu dari yang empunya, mas Taufik. Semoga apa yang hendak saya sampaikan bisa menjadi manfaat untuk kita semua. *tos!
NB : DISARANKAN!  ketika membaca postingan ini sambil mendengarkan Lagu  MAHER ZAIN – SEPANJANG HIDUP biar feel nya dapet. 
Ok, cekidot…. !!
***
Aku bersyukur kau di sini kasih,
Di kalbu ku mengiringi,
Dan padamu ingin ku sampaikan.

Kau cahaya hati,
Dulu ku palingkan diri dari cinta,
hingga kau hadir rupa segalanya,
Oh… inilah janjiku kepada mu.

Sepanjang hidup bersama mu,
Kesetiaan ku tulus untuk mu,
Hingga akhir waktu kaulah cintaku… cintaku.

Sepanjang hidup seiring waktu,
Aku bersyukur atas hadir mu,
Kini dan selamanya aku milik mu.

Yakini hatiku… kau anugerah Sang Maha Rahim,
Semoga Allah berkahi kita,
Kekasih penguat jiwaku, Berdo’a kau dan aku di Jannah,
Ku temukan kekuatan ku disisi mu,
kau hadir sempurnakan seluruh hidup ku,
Oh… inilah janjiku kepada mu.

Sepanjang hidup bersama mu,
Kesetiaan ku tulus untuk mu,
Hingga akhir waktu kaulah cintaku… cintaku.

Sepanjang hidup seiring waktu,
Aku bersyukur atas hadir mu,
Kini dan selamanya aku milik mu.

Yakini hatiku… bersama mu ku sadari inilah cinta,
Tiada ragu dengarkanlah,
Kidung cintaku yang abadi.

:: Maher Zain – Sepanjang Hidup ::
***
Malam begitu sunyi, sesunyi hati ku setelah kepergiannya. Alunan lagu terakhir yang Dia nyanyikan untuk ku membuat air mata ini tak malu untuk keluar dari sudut gelap mata ku. Aku tau, banyak orang yang bilang bahwa seorang lelaki itu pantang untuk menangis, tapi apalah daya ku tak kuasa menahanya, menahan rasa rindu yang teramat sangat terhadapnya, seorang kekasih yang pernah berjanji untuk hidup bersama ku selamanya. Namun takdir hidup itu sendiri yang kemudian memisahkan kita untuk selama - lamanya.
“Aku bersyukur kau di sini kasih,
Di kalbu ku mengiringi,
Dan padamu ingin ku sampaikan.”
Dia yang periang, membuat banyak orang merasa nyaman berada disampingnya termasuk Aku. Dia yang begitu kuat dan selalu tersenyum menghadapi segala cobaan dari – NYA. Sebagaimana Dia menghadapi penyakit yang selama ini hinggap ditubuhnya, meskipun berulang kali memerikasakan diri ke dokter, namun apa kata dokter hanyalah penyakit biasa yang akan sembuh dengan resep obat yang diberikannya. Dia juga penyabar dan menerima segala kekurangan atas waktu ku untuknya. Aku seringkali membatalkan janji yang telah kita buat untuk makan kepiting kesukaanya, atau sekedar berjalan – jalan menikmati senja dari atas bukit sebagaimana hobinya, yang kemudian tiba – tiba aku batalkan hanya karena panggilan tugas mendadak dari bos. Tapi dia memakluminya “nggak apa – apa sayang, lain waktu bisa kok.” begitulah katanya kemudian. 

Inilah yang membuat ku semakin mencintainya,

Rabu, 06 Maret 2013

Perbedaan itu mulai terasa

Apa yang gue rasakan sekarang pastinya banyak diantara kalian yang juga pernah merasakannya. Setelah sekian tahun tak berjumpa dan kemudian tanpa disengaja mendadak dipertemukan kawan lama jaman SMA STM, itu rasanya seperti kembali ke masa lalu dimana kita masih bareng – bareng ngumpul seusai habis kelas. Banyak sekali kisah yang hendak aku sampaikan, tapi apalah daya, waktu jualah yang memisahkan. Sedih sih, Cuma bisa ketemu nggak lebih dari dua jam saja, padahal masih sangat kurang :’(
***
Pagi ini, Selasa 05 Maret 2013, hempon gue tiba – tiba berdering, ada pesan whatsapp. Gue kira siapa, ternyata dari temen SMA STM. Dia kerja diluar kota dan kita nggak pernah ketemu (lagi) semenjak pesta kelulusan di gedung KORPRI jalan Brigjen Darsono dua tahun lalu. Dia bilang, katanya hari ini lagi otw pulang kampung dan dia mau maen ke rumah gue. Seneng? Pasti.
Pas gue tanya, “Serius lu mau maen ke rumah gue, emang lu inget jalan ke rumah gue?”
Dia nge-chat dengan emot senyum – senyum gaje gitu “Hehe… nggak. Gue nggak inget.”

GUBRAKKK !!
Ok, berhubung gue orangnya baik hati ramah tamah dan rajin menabung (nabung dosa maksudnya xD), gue memutuskan buat ketemuan saja, kalau dia sampe nyasar terus nggak bisa pulang? Kan kesian. (._.)/(T_T)
“Yasudah kita ketemuan aja. Jam 5 gue tunggu di ind*mart samping lampu merah.”
“Sip! ntar gue nyamper :) Balasnya singkat.
Sudah bukan rahasia lagi kalau di Indonesia, JAM KARET merupakan kebiasaan yang sudah mendarah daging pada setiap warga negaranya. Dan kalian tau? inilah yang terjadi ketika gue memutuskan menunggunya. Kita udah janjian buat ketemuan jam 5, dan dia baru datang jam 6.20 menit. Apa coba alasan dia?
Dia bilang ke gue “Sory telat, macet soalnya.” Sambil cengegesan.
“Lu kira ini Jakarta pake alesan macet segala?! Ini di Cirebon, kota kecil bebas macet woii !” You know? Itu rasanya pengen jejelin dia pake tabung elpiji 12kg. Kesel.
Oia, kenapa gue mutusin buat ketemuan di ind*mart bukan ditempat lain? Karena eh karena Ind*mart sekarang sudah mengadaptasi gaya tongkrongan ala 7Eleven di Jakarta sana. Yup! Teras Ind*martnya ada meja sama kursinya buat kita nongkrong. Berasa lagi nongkrong di 7Eleven jadinya. Muahahaha…

Niatnya sih mau silaturahmi sama temen – temen yang ada di Cirebon, tapi mereka pada sibuk semua dan enggak ada yang bales meskipun sudah di kontek via pesbuk sekalipun. Padahal gue udah colek – colekin mereka, tapilah dasarnya mereka, ada juga baru ngerespon setelah status itu sudah kadaluarsa. Huhukkk… *keselek modem*
sok sibuk, pret !xP
Yaudah akhirnya kita berdua mutusin buat nongkrong aja di coffeshop. Dalam perjalan tanpa sengaja kita di pertemukan dengan satu kawan, namanya Budi. Katanya dia mau jemput adeknya yang kerja di salah satu outlet store di mall tersebut. Wah ini sebuah kebetulan apa memang Allah sudah merencakan pertemuan ini? Entahlah…
Sesampainya di J.C*, kita pesen dua cup cappuccino panas dan satu cup dingin buat Budi. Dan dapet gratisan tiga biji chese cake yang nggak besar juga nggak kecil, nanggung gitu ukurannya. Tapi gapapa sih lumayanlah gratisan. Hehe… #AkuCintaGratisan
Ketika kita lagi duduk – duduk ganteng di meja nomer 2 disebelah tembok disamping pintu. Kemudian ada satu kawan lagi namanya Puruur tiba – tiba nyamper entah darimana asalnya, nongol gitu aja. Asli kita bertiga kaget. 


Sabtu, 10 November 2012

L.D.R = Jomblo Bertopeng

Sengaja gue publish postingan hari ini, selain dari segi waktunya yang memang keren. Coba lihat header tanggal postingan ini Sabtu, 10-11-'12. Dari tanggalnya, harinya, bulannya, juga tahunnya, cantik bukan? juga keren karena hari ini adalah Peringatan Hari Pahlawan.
Berhubung hari ini adalah hari pahlawan, gue jadi kepikiran buat nulis tentang mereka sang pahlawan jarak, atau bahasa kerennya Distancer.
Distancer harus siap untuk ini
Seperti yang kita tau, LDR atau Long Distance Relationship atau Hubungan jarak jauh adalah suatu hubungan pacaran yang terjadi antara dua insan manusia berbeda jenis kelamin yang terpisah karena jarak dan waktu. Entah itu terpisah karena terpaksa atau terpisah memang sudah terpisah adanya tanpa pernah bertatap muka. Contohnya : mereka yang jadian via jejaring sosial seperti facebook. Biasanya hubungan semacam ini terjadi karena masing - masing mereka merasa memiliki satu-dua-tiga kesamaan, kenyamanan, keunikan yang membuat mereka merasa cocok antara satu sama lain untuk menjalin sebuah komitmen berpacaran. Meski pada kenyataanya mereka sadar, komitmen yang akan mereka jalani mengandung banyak sekali resiko.
Bagi mereka resiko terbesar ialah jarak. Ya! Jarak yang memisahkan keduanya amatlah sangat beresiko. Betapa tidak, masing-masing tidak pernah tau apa yang dilakukan pasangannya disebrang sana dikala mereka sedang asyik bercengkrama by phone. Bisa saja  ngakunya lagi dikamer sambil tidur-tiduran, nyatanya memang lagi dikamer sih, kamer mandi tapinya.. lagi setor dia. hahaha... kan ga elit.
atau mereka (distancer) nggak pernah tau seberapa setia pasangannya disana, bisa saja dirinya menjalin hubungan lain dengan dia yang lain bukan kita. #JLEBBB! 
Antar benua? tahan nggak ya??

Minggu, 28 Oktober 2012

Aku kaya tapi miskin :(

Berhubung ini adalah hari besar bangsa kita, dimana dulu para pemuda Indonesia bersatu dalam tekad dan semangat patriotisme, mereka bersumpah untuk mencapai satu kata untuk bangsanya tercinta yaitu KE-MER-DE-KA-AN yang sesungguhnya kemerdekaan, bukan kemerdekaan bertopeng seperti sekarang ini yang ngakunya saja bangsa merdeka tapi kenyataanya yang kaya semakin kaya yang miskin tambah miskin, akut.
Selamat hari SUMPAH PEMUDA, 28 OKTOBER 1928 (2012 sekarang) semoga apa yang telah diperjuangkan dahulu tetap kita perjuangkan sekarang meski dengan perjuangan yang berbeda, bukan lagi melawan penjajah yang keji melainkan melawan pejabat negara serakah.

MERDEKA !

MERDEKA !!

MERDEKA !!!

Ok, cukup bahas kemerdekaanya. *benerin kerah baju **cek mic*
Gue mau cerita nih soal nasib temen gue yang yah... ciyan lah pokoknya.

Retno puji astuti, 16th, F, SMK Akutansi
Hampir tiap hari dia lupa makan, bukan lupa sebenernya emang sengaja nggak dipikirin. Sekalinya makan, bikin mie instan doang. Kadang direbus kalo dia lagi pengen, tapi seringnya sih cuma diremukin doang, biar nambah instan katanya. Hahaha dasar!
Gimana badan mau numbuh proporsional kalau makanya saja cuma pake mie instan. *ciyan ya dia?*freepukpuk*
Dia sengaja menyibukkan diri dengan seabrek kegiatan sekolah, dari mulai ikut eskul, ikut OSIS, sok-sok ikut bantuin ngerjain tugas temen padahal tugas dia sendiri udah bejibun. Efeknya tiap hari pulang sore, dirumah udah kayak numpang tidur doang dan yang pasti lupa kapan terakhir makan... nasi. Padahal nih ya, dia bukan keturunan dari seorang kuli panggul dipasar yang upahnya nggak sebanding sama banyaknya keringat yang udah ia kuras. Bukan anak dari seorang pemulung jalanan yang buat makan ajah musti nyari sisa di tong sampah.
Semuanya bukan, bukan seperti itu. Melainkan dia adalah anak daripada pengusaha kaya, bergelimpang materi.
FYI, bokapnya seorang pengusaha  meubel. Sedangkan nyokapnya pemilik boutique ternama di pusat kota ternama. Keduanya sibuk dengan urusan usahanya masing-masing, barangkat pagi pulang larut malem dimana anak-anaknya sudah jauh terlelap dalam mimpi.
Gue jadi mikir, kalau memang bokap nyokapnya dia sesibuk itu sampe keduanya nggak punya waktu hanya sekedar untuk ngeteh bareng di balkon rumah,  ngobrolin gimana masa depan anak-anaknya kelak. Apakah akan meneruskan usaha keluarga ataukah memang diberi kebebasan untuk memilih jalan kariernya kedepan. Itu nggak pernah sama sekali. Apalagi untuk memikirkan apakah anak mereka sudah makan atau belum? Inikah potret kehidupan seorang kaya harta yang miskin kasih sayang? Miris.
"Gue bosen tiap hari dirumah gitu-gitu mulu." Keluhnya sama gue.
"Tiap pulang sekolah, pasti rumah sepi kayak kuburan. Ada noh pembantu gue, kerjaanya telponan mulu sama pacarnya. Enek gue liatnya, boro-boro mau ngurusin gue sebagai anak majikanya. Huh!"
"Dia tuh ya nurut kalo lagi ada mamah aja dirumah kalo nggak ada? Ya gitu... nggak peduli sama gue, Padahal kan gue majikannya juga." Tampangnya ditekuk-tekuk.
"Coba bayangin, gue cuma minta dia nyiapin air anget buat gue mandi doang. Cuma iya iya nya ajah, tapi teteup we masih telponan. Kampret memang pembokat gue." Sungutnya.

"Sabar-sabar, orang sabar disayang gue. mehehehe . Mau kan lo disayang gue?"
"Ogah !"
Sabar not :)
Dia mulai curhat ke gue tentang bagaimana hubungan dia sama orang tuanya, sama pembokatnya yang rese, belum lagi ngadepin adek ceweknya yang ngeselin, suka make barang-barang dia, makeup lah, rok lah, celana lah, kaos lah, sepatu lah, tas sama segala aksesories lainnya. Maklum adeknya itu masuk dalam masa puber,  dimana seseorang akan memulai mencari jatidirinya. Apalagi adeknya itu nggak beda jauh umurnya sama dia. Cuma beda 3taun doang. Adeknya itu SMP kelas 3.
"Gue ngiri sama lo,ben." Katanya sayu.
"Heh? apa yang lo iriin dari gue? Enakan juga lo kali. Segala macem fasilitas dirumah lo ada, kalo gue jadi lo, gue bakalan happy se happy happynya orang happy."
"Ah...nggak juga"
"Terus gue harus gimana?"
"Nggak usah gimana-gimana, lo cukup jadi temen baik gue aja biar gue nggak kesepian."
*cihuy brb peluk dia #PLAKKK!!! *digampar*

Ok, gue ngerti gimana perasaan dia, gimana rasanya sendirian, gimana rasanya kesepian, gimana rasanya diabaikan, gimana rasanya es krim magnum gold, gue ngerti banget soal yang satu itu. kekekekkk...
"Tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada diabaikan."-ben
Kalau sudah begini kasusnya, terus mau siapa yang disalahkan? bokapnya? nyokapnya? adeknya? apa pembokatnya yang nggak nurut?
Menurut gue sih, kudunya orang tuanya itu nyadar dengan apa yang selama ini mereka lakuin. Boleh kok nyari nafkah buat jajan anak-anaknya tapi nggak sesibuk itu juga kali... Sampe anak sendiri ditelantarin begitu, ciyan kan jadinya.

Sebenernya gue juga nggak tau sih mau nyaranin kayak gimana baiknya ke dia, soalnya yang jadi masalah bukan di dia tapi bokap-nyokapnya itu yang harus disadarin entah mau pake apa nyadarinya, baygon mungkin? atau racun tikus biar sekalian sadar, sadar sudah diakhirat maksudnya xD
Yah.. gue sih sebagai temen cuma bisa bilang "saya turut prihatin" (pakpres yang ngajarin gue ngomong gini, ciyus !)

Akhir kata, semoga dia tetep baik-baik saja segimanapun keadaan rumahnya. Maaf kalau gue elum bisa jadi sahabat yang baik buat lo, sist. Maaf :'(

"Bolehlah bergelimang harta, tak jua bahagia kalau tiada cinta dari kedua orang tua." -ben


Ja...

Senin, 30 Juli 2012

Hanya akhir bulan bukanlah akhir pertemuan, kawan.

Fuji-san, Japan.
Sudah bukan rahasia lagi kalau setiap orang pasti ingin bisa pergi ke negeri matahari terbit, Jepang. Begitu pun gue, sangat amat ingin menginjakkan kaki ini disana. Betapa sesuatu yang luar biasa jikalah memang hal itu menjadi sebuah kenyataan. Tak akan henti-hentinya gue bersyukur atas nikmat tersebut. Mungkin ini terdengar lebay tapi apa mau dikata ini faktannya. :(

Sering banget gue dapet pertanyaan macam gini :
“Kenapa sih lo ben pengen banget ke jepang?”
“Terus mau ngapain sih lo disana?”
“Memang ada apa coba disana? bukannya disini lebih enak?"
Gue akan menjawab dengan sepenuh hati “Itu sudah panggilan jiwa, kawan ^.^“ PLAKKK! *ditimpuk pake sendal*
Gue sih berharap suatu hari nanti gue diberikan kesempatan buat menghirup udara di negeri sakura sana. I wish :)

Ngomongin soal jepang, kemaren minggu, 29 July 2012 tepat pukul 11.00 WIB. Tiga dari temen seangkatan kerja gue mendapat kesempatan itu, ya! mereka di mutasi buat meneruskan karir pekerjaan mereka di Jepang. Ngiri sih... ngiriii bangettt :'(
Kenapa nggak gue ajah yang diamanahi buat kesana, kenapa? kenapa musti mereka? kenapa ya Allah…?! 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...