Sahabat Blogger

Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

Koridor Perpustakaan

"Huh! kenapa sih mereka selalu gituin aku!" Sungut Ririn kesal.
"Sudah nggak usah dipikirin. Lagian mereka belum tahu siapa kamu, kan. Jadi wajar kalau mereka bertingkah seperti itu." Senny mencoba menetralisir keadaan.
"Iya, sih! tapi kan nggak terus-terusan gitu juga dong. Kan kesel."
"Terus mau bagaimana lagi. Lah kamu sendiri suka gitu kan. Ngomong sendiri nggak jelas. Yah... Aku sih ngerti kamu pasti lagi ngobrol sama 'mereka' tapi, mereka? mana tahu, kan?"
"Au ah!" Ririn memalingkan mukanya, sinis.
"Marah-marah mulu nih daritadi. Entar cepet tua loh... keriput macam nenek gayung. Mihihihi..."
"Ah lupakan. Nih minum." Senny memberikan sebotol air mineral dingin untuk Ririn. Yah... seenggaknya tenggorokkan Ririn lebih adem ketimbang suasana hatinya sekarang.
Sering dianggap 'aneh' bahkan 'gila' setiap kali Ririn terlihat berkomunikasi dengan 'mereka'. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui hal tersebut kalau sebenarnya Ririn tidak sendiri. Tapi apalah daya, begitu yang orang lain lihat. Bagiku? Tidak. Aku tahu Ririn adalah seorang Indigo meskipun Aku sendiri tidak pernah melihat 'mereka' secara nyata. Tapi aku percaya 'mereka' memang ada.

Senin, 01 Juli 2013

Sampai ke ujung dunia

Ketika tanpa sengaja playlist Mp3 ku mengalun lagu itu, lagu yang pernah Dia nyanyikan untukku.
"Selama kau belum jadi milik ku yang utuh, Aku akan s'lalu miliki mu...
Selama bumi masih kan terus berputar,  Aku akan s'lalu menuju mu...
Walau... ke ujung... Dunia..."
Begitu merdu suaranya. Dia terus memandangiku dengan senyum khas dari bibir mungilnya. Jika saja aku seorang wanita, mungkin wajahku yang memerah akan kelihatan kentara. Sayang, aku adalah lelaki berkulit sawo matang cenderung gelap sehingga bukan merah padam raut wajahku melainkan merah legam.
"Kamu tau, seperti lagu ini, aku tak tau bagaimana hidupku jika nanti aku dan kamu bukan lagi sebagai kita." Dipeluknya lengan ku erat sambil menyenderkan kepalanya manja. Ku elus rambutnya, "Sayang, Kita akan tetap menjadi Kita selamanya." Sesaat ku ciumi keningnya, 'Betapa cantik rupanya bidadariku ini' Aku membatin. Sepanjang malam kami habiskan berdua duduk dibangku panjang ditaman belakang rumahnya. Memandangi hamparan langit malam yang indah dipenuhi taburan kerlip bintang-bintang berkedip.
***

Senin, 06 Mei 2013

INDIGO : Tolong jelaskan!

 "Rin, kamu ngomong sama siapa sih tadi?" Tanya Senny heran.
"Oh, itu? nggak kok. Bukan siapa-siapa." Jelasnya datar.
"Tapi barusan aku liat kamu entah ngobrol sama siapa gitu?"
"Nggak ada apa-apa. Eh, ke kantin yuk, laper nih!"
Senny mengernyitkan alis, Ia heran dengan tingkah sahabatnya itu. 
***
Bel pulang tengah berbunyi, sedemikian siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Terlihat beberapa dari meraka berlarian menuju gerbang sekolah, nampaknya mereka sudah tak sabar ingin segera pulang kerumah. Justru beberapa nampak santai sambil berbincang asyik dengan kawan sebaya. Sedang Aku? disini, duduk di bangku pinggir lapang upacara menunggu hingga sepi barulah aku beranjak pulang. Entahlah, aku tak begitu suka keramaian.
Kata mereka sih aku dianggap 'aneh' karena dalam beberapa kesempatan, mereka memergoki ku seperti berbincang dengan seseorang yang pada kenyataanya tidak ada siapa-siapa disana. Memang benar, mungkin 'mereka' tidak benar-benar nyata tapi bagiku mereka memang ada.

Tiba-tiba Ririn menarik lengan ku, mengumpatkan ku dibalik punggungnya. Wajahnya pucat dengan sorot mata berubah tajam kebiruan, "Jangan ganggu teman ku!" Bentaknya.
Aku bingung, aku takut. Entah takut sama siapa, yang jelas perasaan takut itu menjalar dasyat ditubuh ku. "Pergi!" Tangannya seolah-olah mengibaskan sesuatu yang tak nampak oleh mata ku. Setelahnya, perasaan takut itu berangsur hilang seiring raut wajahnya yang kembali normal.
"Kamu nggak apa-apa kan?" Katanya kemudian.
"I..iya. Aku nggak apa-apa." Aku masih terlalu takut untuk menanyakan apa yang barusan terjadi.

Rabu, 24 April 2013

The Mind Reader

 
###
BRUKKK !

Lagi-lagi Ririn menangis tanpa sebab. apa yang barusan dia rasakan membuat dadanya mendadak sesak, tak mampu menahan derasnya air mata dari pelupuk matanya.
"Rin, kamu nggak apa-apa, kan?" Senny mulai khawatir.
"Dia butuh pertolongan." Ujar Ririn membingungkan.
"Siapa yang kamu maksud 'Dia' itu?"
"Kita harus segera menolongnya, aku nggak mau ini terjadi lagi."
Senny semakin dibuat bingung saja, Ia tidak mengerti apa yang Ririn maksudkan. Meski begitu Senny dengan setia membelakangi langkah Ririn yang Ia sendiri tak tau mau dibawa kemana. 
"Rin, sebenernya mau kemana sih kita?"
Dengan langkah yang semakin dipercepat, Ririn tak menggubris setiap kebingungan yang Senny lontarkan kepadanya.
"Lily...!" Senny shock melihat pemandangan didepannya. Ia masih belum yakin dengan apa yang barusan dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Darah nampak mengalir deras dari lengan kiri seorang gadis berseragam putih-abu sama sepertinya.
Ririn yang sudah menduga kejadian ini sebelumnya, segera merangkul Lily yang terkapar, "Sen, bantu aku bawa Dia ke UKS, cepet!"
"I...iya"
Kejadian yang tak diinginkan Ririn terjadi lagi. Lily seorang gadis yang tak disengaja ditabraknya siang tadi dikoridor sekolah tengah terkapar dengan beberapa jahitan di pergelangan tangan kirinya. Rupanya Ia mencoba bunuh diri ketika tau pacarnya enggan bertanggung jawab atas perbuatannya menghamili Lily.

Minggu, 21 April 2013

Tetes Terakhir

Source : Google
###
Musim tengah berganti, namun Aku masih disini, diam tak beranjak. Seperti sudah menjadi kebiasaan ketika sedang libur kuliah seperti sekarang ini, hanyalah bermalas-malasan di kamar. Apalagi suasana begitu mendukung untuk tetap berdiam diri di kamar, di luar hujan cukup deras. Setelah kuambil secangkir coklat hangat dari dapur, lantas Aku duduk di jendela, menatap setiap tetes butiran hujan dari baliknya. Entah darimana asalnya, serpihan-serpihan masa lalu itu kembali mengusik khayal ku. Dia yang dulu pernah menjadi bagian dari setiap episode kehidupan ku, kini kembali tanpa permisi.

Beberapa hari lalu, ketika Aku sedang disibukkan melayani pembeli di toko sembako milik paman. Ini kegiatan ku selama dua minggu libur semester, membantu paman berjualan di toko kelontong miliknya. Timbang hanya buang waktu di kamar lebih baik disini, sambil belajar juga bagamana paman bisa sukses dengan usaha dagangnya ini. Aku kira Dia lengganan toko paman, seseorang yang wajahnya tak asing lagi bagiku, 
"Hei, apa kabar?" Katanya tiba-tiba.
'Siapa Dia ini berlagak sok akrab begitu.'
"Kamu Dody, kan?"
"Iya saya Dody. Maaf, ada yang bisa saya bantu, mbak?"
"Masa nggak inget sih sama Aku?" Tanyanya manja.
"Maaf, siapa?"
"Ini Aku, Dod." Jelasnya sumringah.
"Bentar-bentar. Uhmmm... kamu?"
"Iya, ini Aku."
"Oh iya, Aku inget. Apa kabar kamu?"
"Ih... kan Aku duluan yang nanya gitu dan belum kamu jawab."
"Heh? maaf, iya Aku baik. Kamu?"
"Gitu dong, Aku baik juga."
Kemudian masing-masing kami tenggelam dalam suatu percakapan dengan sesekali terdengar suara tawa darinya yang memang sudah sekian lama baru aku dengar lagi sekarang, rasanya berbeda.
***
 "TRUTTT...!" New message tertera dilayar Hape ku.

From : +6283824331xxx
"Malem gini lagi ngapain?"

'Siapa malam-malam begini SMS? nggak pake nama pula?' Aku pikir, ah... sudahlah barangkali iseng. Aku pun kembali fokus ke tugas kuliah lagi. Selang lima menit kemudian, Hape ku bunyi lagi masih dari nomer yang sama.

From :  +6283824331xxx
"Kok nggak bales? udah bobo ya? :'(" 

"Maaf siapa?"
Send.

From :  +6283824331xxx
"Oia gud nait. Misu :) "

Aku heran, orang ini makin nggak jelas saja, Aku biarkan tak membalas dan kembali larut dalam tugas yang sudah menanti deadline lusa hari. Libur dua minggu rasanya begitu cepat berlalu, mungkin juga karena liburan ku sibukan dengan membantu paman ditoko, jadi nggak terasa kalau liburan sudah berakhir.
Pukul 02.30 dini hari, akhirnya tugas itu selesai dengan damainya berharap mendapat nilai yang sebanding dengan pengorbanan saat pengerjaanya. Aamiin :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...