 |
| The Fabulous Udin : Semua seakan mudah saat Ia ada |
Inong duduk berdua
diberanda rumah bersama Suri, teman satu sekolah yang baru beberapa bulan
dikenalnya. Perbincangan antara keduanya begitu asyik terlihat. Nampaknya mereka
sudah begitu akrab, “Nong, kalo kamu ada di posisi aku. Kira-kira apa yang
ingin kamu inginkan sebelum saat terakhirmu tiba?” Tanya Suri datar. Matanya
menerawang jauh entah kemana, Sangat jauh.
“Aku mau dia menemaniku
terus tiap hari. Lalu, pada saatnya tiba, aku akan meminta dia memelukku
erat-erat. Dan saat memejamkan mata, aku akan merasa dia menemani tidurku,
selamanya. Ohh… seandainya itu terjadi, aku pikir, aku benar-benar rela
menggantikan posisimu, Suri. Kamu melanjutkan hidupmu, aku berbaring
dipelukan-Nya. Sungguh, aku mau… “ Segurat senyuman tulus menghiasi bibir
mungilnya. Manis.
Suri melongo mendengar
ucapan Inong barusan. Beberapa saat kemudian, “Oh my Godness… Itu manis sekali, Inong. Seandainya aku bisa merasakan
hal sepertimu, aku nggak mau menukar posisiku.”
“Aku tahu. Itu memang
mimpi yang indah.”
“Kalo begitu, jika
waktunya tiba, bolehkah aku meminjam mimpimu sebentar?”
“Maksud kamu?” Inong
mengernyitkan dahi.
“Aku juga mau punya
akhir cerita seperti dalam khayalanmu. Berbaring dalam pelukan orang yang kita
cintai. Pasti indah, ya.” Pungkas Suri dengan senyuman penuh arti dari
mimiknya.
-Segitiga
Cinta Monyet. Hal. 125 #TheFabulousUdin-
+++
Yatta…
akhirnya selesai juga baca Novelnya Rons ‘Onyol’ Imawan (@WOWkonyol) ‘THE FABULOUS UDIN : Semua seakan mudah
saat Ia ada’. Novel bengenre remaja terbitan Bentang Pustaka
(@bentangpustaka) ini sungguh sangat menyentuh sekaligus banyak sekali
memberikan ilmu pengetahuan baru serta manfaat tentang akhlak bagaimana sebagai
seorang remaja seharusnya.
Kisah perjalanan
seorang bocah yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama ini sukses
membuat gue sebagai pembaca merinding disko ketika Ia menunjukkan beberapa
adegan dengan gaya khasnya dalam cerita tentang bagaimana sebuah kebijaksanaan
yang seharusnya dimiliki seorang dewasa justru bocah yang notabene masih bau lengkuas
kunyit mampu memberikan pelajaran bagaimana seharusnya seorang dewasa
bertindak. Awasome.
UDIN. Hanya Udin.
Namanya hanya empat huruf. Dialah sang tokoh utama. Seorang social genius. Digambarkan sebagai sesosok
bocah kampung yang memiliki ketampanan tingkat kota, putih, bersih, matanya
agak sipit. Tidak heran jika seseorang yang baru mengenalnya tidak akan
menyangka jika dia hanyalah anak kampung yang doyan main ke hutan ataupun ke
pantai. Ciri khasnya adalah dia yang selalu mengenakan topi kemanapun Ia pergi.
Satu lagi, Udin tidak fasih berbahasa inggris. Bukan, bukan dia enggan belajar
bahasa Inggris. Justru dengan tingkat IQ macam Udin, menguasai bahasa Inggris
bisa dikatakan amat sangat mudah dimengerti. Tapi, sederhana saja apa alasan
Udin tidak melakukan hal tersebut. Menurutnya, ‘Bahasa Indonesia adalah bahasa paling seksi di dunia. Dia tidak akan
pergi kemana-mana, dan dia tidak membutuhkan bahasa lainnya.’ Begitulah
alasan Udin setiap ada yang memprotes kemampuan bahasa Inggrisnya.
 |
| Betapa polosnya Udin soal bahasa Inggris -..-" |
Dengan ciamik
membawakan karaktek yang menurut gue sangat-sangat-mengaggumkan. Betapa tidak,
dalam cerita Ia mampu menyelesaikan masalah segenting apapun dengan mudah.
Dengan permainan psikologi yang dibuatnya, dengan berbagai teka-teki yang
sederhana namun dengan berjuta makna.