![]() |
Warnai hidupmu... sendiri :| |
“Udah sikat aja bro,
disamber orang ntar nyesel loh,”
“Nggak semudah itu
bro,”
“Ah, lu nya aja yang
cemen,” katanya enteng.
“Jangan nyesel ya, kalo
doi gue gebet. Haha...” pungkasnya ngeselin.
Percakapan sore itu, gue
merasa seperti seorang pecundang yang bahkan menolong diri sendiri pun tidak
mampu apalagi menolong orang lain.
‘BAKA! BAKA! BAKAYARO!!!’ gerutu
gue dalam hati.
“Eh? Kenapa lu bro? Sakit?”
***
Perkenalan kami
bukanlah kebetulan, melainkan takdir yang sudah Tuhan gariskan, gue percaya
itu. Entahlah, mungkin gue terlalu menyakini hal tersebut atau memang sebuah
obsesi berlebih terhadap dirinya?
Namanya Ririn, orangnya
supel, pandai bergaul, pinter, terlihat saat dia mulai berdiskusi mengenai apa
saja dalam komunitas kami, berhijab, matanya sipit, yang terpenting senyumnya
manis, semanis kurma azwa. Beberapa hal tersebut yang memicu perasaan gue
terhadap sosoknya. Kekaguman yang semakin hari semakin aneh rasanya, semacam
nikotin pada rokok yang membuat ketergantungan. Ya! gue jatuh cinta. Geli,
bukan?
Gue sendiri kadang
tidak terlalu paham dengan apa yang gue rasain saat berada di dekatnya, apalagi
ketika terlibat conversation mengenai dirinya, saat-saat tersebutlah yang
membuat gue selalu merasa dipencundangi diri sendiri karena ada saja hal yang
membuat gue salah tingkah bahkan konyol. Terkadang hanya karena ingin
melihatnya tersenyum, gue rela dianggap bodoh sekalipun.
Pertemuan kami
berikutnya membuat kami terlihat sangat akrab, canda-tawa seringkali mengiringi
waktu yang kami habiskan bersama. Yah... meskipun kebersamaan kami bukan hanya antara
gue dan dia, sih, tapi bersama dengan teman-teman lainnya juga.
Gue dan dia memang
tergabung dalam sebuah komunitas multicultural, jadi tidak heran jika gue dan
dia semakin dekat adanya, atau mungkin kelihatanya aja, sih, gitu.
Pernah satu ketika, disebuah
warung tenda tempat biasa kami gathering komunitas, antara gue dan dia sedang
asyik-asyiknya berfoto ria, tentunya bersama dengan yang lain juga, sih.
Ada satu moment dimana
gue hanya berdua dengannya berpose lumayan dekat hampir rapat malah, hanya
beberapa detik memang, tapi bahagia yang gue rasakan seperti berabad lamanya.
Harum tubuhnya menyeruak hingga paru-paru, nampak jelas parasnya yang ayu,
senyumnya yang semanis kurma azwa, membuatku seolah melayang terbawa angan yang
teramat indah ku bayangkan.
“Maaf, mas. Jangan
duduk diatas meja, ya, nanti patah.” tegur mbak-mbak penjaga warung membuyarkan
lamunan indah itu.
“Eh? i... iya, Mbak,
maaf.” gue tengsin. Lebih tengsin lagi ketika tau dia juga nampak
menyembunyikan tawa geli terhadap kejadian itu.
‘Oh...
God! Ambil nyawa gue, AMBIL!’
***
Gue paling males kalo
sudah di cie-cie-in sama yang lain,
“Kalian ini apaan, sih!
Norak tauk!” sungut gue kesal.
“Yaelah, bro. Gausah sewot
gitu juga kali,”
“Iya bener tuh. Wuhhh...”
celetuk yang lain.
“Lagian kalo emang lo
biasa aja sama dia, ngapain juga lo sewot? Ah, dasar anak muda...”
Ada benarnya juga sih,
kenapa juga gue kesel setiap ada yang godain keakraban kami. Bukannya kita cuma
teman biasa, nggak lebih?
Sore itu seusai
ngumpul, dia hendak pulang, akan tetapi jemputannya tak kunjung datang.
Biasanya, setelah ngumpul seperti sekarang, dia selalu dijemput sopirnya. Tapi
tidak dengan hari ini,
“Kesempatan emas nih,
bro!” senggolnya ke gue.
“Maksud lo?”
“Gue heran, kenapa gue
mau temenan sama orang se-idiot lo gini?”
“Serius nih gue, maksud
lo apaan?”
“Lo liat dia didepan
sana, kan?” tunjuk temen gue.
“Iya, terus?”
“Katanya lo suka sama
dia. Sekarang lo samperin dia, ajak dia pulang bareng.”
“Njirrr! Gila lo. Nggak
ah. Nggak berani gue,”
“Ah, emang lo itu pada
dasarnya cemen, yah, cemen aja.” ledeknya.
“Eits, ati-ati bro kalo
ngomong, gue nggak separah itu juga keleus!”
“Buktiin ke gue kalo lo
gantle. Samperin dia!” agak kasar tangannya menghadapkan paksa kepala gue ke
arahnya.
Demi sebuah pengakuan
kalo gue bukan seorang pengecut seperti yang temen gue katakan. Akhirnya dengan
segumpal keberanian, gue beranjak menghampirinya.
“Hei, belum pulang?”
gue basa-basi.
Dia hanya menggelengkan
kepala, Ia masih sibuk dengan gadgetnya.
“Tumben, biasanya
jemputannya on time, kenapa sekarang ngaret, ya?” gue masih berusaha
mendapatkan perhatiannya.
Belum ada patah kata
darinya, hanya raut wajahnya saja yang berubah muram.
“Kalo nggak keberatan,
biar aku anter, gimana? Mau?” gue mulai agresif.
“Eh, kamu. Maaf aku
pikir siapa?” katanya kemudian setelah selesai dengan gadgetnya.
‘Emang
kamu pikir siapa, hah!’ setelah beberapa kalimat sok akrab
tadi, dia baru tanya gue siapa? Emang gue siapa, ya? *facepalm *free puk puk
”Iya, ini aku, Danny.”
“Ah, iya sorry, Dan,
tadi lagi SMS soalnya,”
“Jadi kamu mau aku anterin
atau gimana?” tawar gue lagi.
“Maaf, Dan, makasih. Bentar
lagi juga dateng kok,”
“Oh, gitu. Ya udah, aku bantu temenin kamu
disini sampe jemputannya dateng, ya,”
“Boleh aja. Emang kamu
nggak pulang?”
“Rumahku deket sini
kok, santai aja,”
“Bagus deh,” jawabnya
singkat.
Beberapa saat setelahnya
hanya hembusan angin yang terdengar begitu nyaring, hening...
‘Nggak
nyangka ya, kita bisa sedekat ini. Mungkin nggak, sih, kalo kita bisa lebih
dekat lagi, jadian misalnya. Hehe... Kamu tau nggak, aku selalu berharap moment-moment
seperti ini, berdua dengan bidadari secantik kamu, foto bareng, main bareng, ketawa
bareng. Ah, sudahlah, gue terlalu muluk soal itu. Sederhananya, gue berharap
waktu tidak berlalu secepat itu.’ gue membatin.
TIN!
TIN!!! Suara klakson menarikku kembali dalam kenyataan.
Seseorang dengan kuda
besinya menyapaku dari balik helm fullfacenya itu, lebih tepatnya menjemput
Ririn.
“Aku duluan ya, Dan.
Sankyu udah nemenin!” katanya sedikit berteriak.
Ya! Dia tengah berlalu
dengan seseorang yang entah siapa. Hingga gue tak sadar, gue mencoba membalas
lambaian tangannya meskipun getir. Gue masih berharap, semua ini hanya mimpi, MIMPI
BURUK!
###
Hah? Sankyu sih apaan?
BalasHapusKeren bro, lanjutkan tuh karyanya. Asyik gaya berceritanya
ah iya makasih bro.
Hapussankyu = thank you dlm bahasa jepang. heheh
Wah! lanjutkan bro! gua yakin pasti dapet :)
BalasHapusgua setuju sama kalimat "Terkadang hanya karena ingin melihatnya tersenyum, gue rela dianggap bodoh sekalipun" :)
sip!
Hapussankyu semangatnya :)
terusin dong kak seruu ..haha
BalasHapussiap!
Hapusmakasih support nya :)
ceritanya menarik sekali,,tetap semangat,kan cinta itu perlu di perjuangkan :)
BalasHapusYOSH!
HapusSankyu kak :)